Evaluasi dan Koordinasi Kerja Sama dengan Onions New Zealand...
Jakarta – Evaluasi dan koordinasi kerja sama hibah antara Onions New Zealand dan BRMP yang dilaksanakan pada awal April di Sekretariat BRMP, Jakarta, menjadi momentum strategis untuk meninjau capaian program sekaligus merumuskan arah pengembangan ke depan.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Badan, Prof. Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si., Sekretaris Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, Husnain, S.P., M.P., M.Sc., Ph.D., Kepala BRMP Sayuran, Hadis Jayanti, S.P., M.P., Ph.D., Ketua Tim Kerja Layanan, Penilaian Kesesuaian, dan Pendayagunaan Hasil, Eti Heni Krestini, S.P., M.P., serta tim kerja sama BRMP dan perwakilan Onions New Zealand, Kazi Talaska dan Pingkan Mokalu.
Pertemuan membahas secara komprehensif perkembangan pelaksanaan hibah luar negeri yang telah memasuki tahun ketiga (2025–2026), mencakup capaian program, kendala yang dihadapi, serta peluang penguatan pada tahap berikutnya.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pelaksanaan program secara umum berjalan baik dan sesuai target yang telah ditetapkan. Pihak Onions New Zealand juga menyampaikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan telah berjalan lancar dan memenuhi harapan. Selain itu, disampaikan pula peluang pengembangan kerja sama ke depan.
“Saat ini Onions New Zealand tidak hanya menangani bawang bombai, tetapi juga membuka ruang lingkup untuk sayuran outdoor lainnya. Hal ini membuka peluang kerja sama untuk komoditas lain, seperti wortel, apel, citrus, atau buah tropis lainnya,” ujar Kazi Talaska.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Badan, Husnain, S.P., M.P., M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa pengembangan kerja sama dapat diarahkan lebih luas, termasuk menjangkau wilayah produksi di luar Pulau Jawa.
“Kegiatan pelatihan diharapkan dapat menjangkau sentra produksi lainnya, seperti Sumatera Utara dan Sumba, serta dapat berkolaborasi dengan BBRMP provinsi,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala BRMP Sayuran, Hadis Jayanti, S.P., M.P., Ph.D., menekankan pentingnya penguatan aspek teknis dan keberlanjutan program.
“Bimbingan teknis, diseminasi informasi, dan penyediaan alat dapat menjadi dasar dalam mengidentifikasi peluang kerja sama lanjutan. Selain itu, peningkatan kapasitas tidak hanya bagi petani, tetapi juga SDM pegawai perlu terus ditingkatkan,” jelasnya.
Pembahasan juga mengarah pada pengembangan inovasi dan perluasan cakupan program, antara lain pengembangan teknologi perbenihan bebas virus melalui somatic embryogenesis, penguatan pengujian residu, serta perluasan kegiatan bimbingan teknis ke sentra produksi di luar Pulau Jawa. Langkah ini diarahkan untuk memperluas jangkauan manfaat program secara lebih merata di tingkat nasional.